Sebuah Pesan dalam Facebook

Posted in PUISI JINGGA with tags on April 20, 2011 by Jingga Lestari Story

Sebuah pesan dalam inbox facebookku:

I am sorry about never trusting you,
I am sorry for always hurting you,
I am sorry i can’t be who you want me to be,
I am sorry i can’t be perfect,
I am sorry for our past experiences,
I am sorry i can’t be your dream boy,
what i am aiming for is i am
sorry i am not good enough to be with you.
I really miss you.
You have no comments to approve.

Ah, aku tidak mengerti bahasa barat ini
begitu pun semua permintaan maaf yang kau ucap.
Sungguh aku hanya ingin ‘bukti’ bukan ‘maaf’
yang acap kali kau umbar, sehabis kau mengukir luka
terima kasih untuk waktu yang singkat itu.

Iklan

Kunang dan Rindu

Posted in PUISI JINGGA with tags on April 20, 2011 by Jingga Lestari Story

kunang kunang bercahaya

kerinduan memawar

kusimpan harumnya dalam telaga mata

tersebab rindu tak pernah menawar.

:jingga:

Review buku “The Bridges Of Madison Conty”

Posted in Review buku with tags on Maret 21, 2011 by Jingga Lestari Story

 

 

“The Bridges Of Madison County”

Sebuah novel karangan Robert James Waller yang berkebangsaan Amerika serikat. Aku dapat buku ini dari tumpukan buku2 lama di perpustakaan kota, aku tertarik dengan sampulnya hingga dengan begitu saja kucomot ia dari tempatnya yang berdebu.

Bentuknya sudah sangat sekarat, sampulnya sudah lecet dan bahkan sudah robek. Tapi aku sangat tertarik pada buku ini, akhirnya aku usap-usap dengan tangan lalu kubersihkan dia dari debu yang masih menempel. Bukunya sudah sangat tua…

Teman, aku menemukan cerita cinta yang sangat dahsyat di dalam buku ini. Kesannya adalah “RUAARRRR BIASA”. Kisah yang sangat menakjubkan sekaligus mengaharu biru pikirku.

When Robert Kincaid drives through the heat and dust of an Iowa summer and turns into Francesca Johnson’s farm lane looking for directions, the world-class photographer and the Iowa farm wife are joined in an experience of uncommon truth and stunning beauty that will haunt them forever. The romantic classic of the 1990’s.

Novel ini bercerita tentang kisah hidup dan kisah percintaan seorang Robert L. Kinchaid dengan seorang wanita bernama Fransisca Jhonson. Kisah cinta mereka berawal dari perjalanan Robert yang akhirnya mampir ke rumah Fransisca. Pertemuan dan kebersamaan mereka terbilang sangat singkat yakni hanya 4 hari. Namun dari pertemuan dan kebersamaan yang singkat itu, justru tertanam benih-benih cinta dan kasih sayang diantara mereka.

Mereka saling memendam perasaan selama 14 tahun lamanya, bukan waktu yang singkat bukan untuk mengenang dan memendam rasa? Sampai keduanya akhirnya meninggal tanpa sempat bertemu kembali. Mereka ingin jasadnya dikremasi dan abunya di taburkan dari atas jembatan Roseman.

Cerita ini membuat aku menitikkan airmata karena kisah percintaan serta kerinduan yang mereka pendam.

salah satu kutipan paragraf dalam cerita ini adalah:

Ada nyanyian yang menyembul ringan dari rumput biru kehijauan. Ada pula yang muncul dari debu ribuan jalan yang memanjang di pedesaan…”

Hemm,,,sangat indah! 🙂 Siapapun yang punya buku ini, pliss aku bisa kok beli kembali. hehhe soalnya sampai sekarang aku belum menemukan bukunya yang versi indonesia. atau kalau ada yang punya filmnya, kirim ke aku yak…:D di tunggu!

Jingga,210311

Oret-oretan Masa Lalu

Posted in Oret2an Jingga with tags , on Maret 21, 2011 by Jingga Lestari Story

Dulu ada seseorang yang pernah singgah di persinggahan hatiku, seseorang yang mampu mengembalikan segala kerinduan. Walaupun kebersamaan dengannya hanya 4 bulan, tapi terlalu berkesan bagiku.

Mulanya kita berkenalan di halaman depan kampus, dia memperkenalkan namanya demikian juga aku. Namanya sebut saja “R”, tahu kesan pertama yang paling membuatku terkesan? Senyumnya.

Akhirnya perkenalan berlanjut hingga 3 bulan lamanya sampai akhirnya ia menyatakan perasaannya padaku. Jujur itu pengalaman kedua aku pacaran. Pacar kedua namun cinta pertama. Cinta Pertama? Yap, dia yang pertama kali mengajarkanku tentang kelembutan cinta, ketulusan dan penghargaan terhadap cinta. Senyumnya yang pertama kali meperkenalkan padaku tentang sosok lembut dan penyayang dalam dirinya.

Dia sangat baik padaku, jadi setelah putus tak ada alasan bagiku untuk membencinya. Karena aku yang salah, karena membuatnya salah paham dan membiarkn ia tetap dalam kesalahpahamannya itu. Berulang kali aku coba menjelaskan, namun mungkin sudah tertutup hatinya untukku. Meskipun setelah putus kurasakan banyak kepedihan dari apa yang diperlihatkannya di hadapanku, namun aku tetap tak membencinya. sebab aku ingat semua kebaikan yang pernah ia beri untukku.

Setelah 2 tahun baru aku bisa menyembuhkan luka itu dan menerima yang lain dlam hatiku. meski luka itu belum sepenuhnya sembuh, aku selalu berusaha agar mampu mencintai dan menyayangi sama seperti aku menyayangi dia. Tapi tetap saja semua yang datang padaku, berlalu begitu saja dengan cepat, secepat ketika ia datang padaku. hingga akhirnya kuputuskan untuk sendiri hingga kini…:(

Sekarang sudah 4 tahun berlalu, dia masih saja mencuri ingatanku untuk memikirkan dan merindukannya. Kenapa justru dari kebersamaan yang singkat bisa kutemui keabadian rasa? Justtru karena cerita yang singkat itu hingga yang mampu kukenang hanyalah kenangan indah saat bersamanya dan mengabaikan segala rasa benci. lalu semua menguap dan jadi janin Rindu dalam dadaku…

“Semakin ku membuangmu dari pikiranku, semakin kau bertambah saja di pikiranku. Hingga aku tak mampu lagi memikirkan yang lain, meski aku hanya menggenggam kenangan. Seperti selalu kunamai dirimu sebagai “R I N D U”

Semoga di lain kesempatan kita bisa berjumpa lagi… 🙂

Kekasihku!

Jadoels Story 2

Posted in D'Jadoels Story with tags , on Maret 21, 2011 by Jingga Lestari Story

 

Jadi setelah lulus SMA nih, aku niatnya ngelanjutin di PTN (Perguruan Tinggi NEgeri). Di sini ada cerita jayus juga alias norak abis. Soalna,,,dulu kan yah belum tahu gitu deh jalur – jalur kota. Sementara PTN kan ada di kota besar yang sekarang di kenal kota Makassar. Waww,,,pengalaman pertama datang ke kota. Pertamanya waktu pendaftaran dianter sama kakak, tapi dasar asli sok tahu and sok berani. Aku bilang gini sama kakak, udah deh gak usah temenin aku bisa sendiri kok. Lagi pula kan ada juga teman – teman yang daftar di PTN yang sama. Jadi bisa juga bareng2 sama mereka. Oke…at least! Kakak percaya. Ini dunia bebas pertama kali yang aku rasain. (Gak diawasi soalnya,hehhe).

 

Jadi deh aku sama tiga orang temanku yang juga masih pengalaman pertamanya mereka. Dan ada satu orang yang jadi penunjuk jalan kita, kebetulan dia emang tinggal menetap di makassar. Jadi dia yang jadi gate-nya kita kemana – mana. Yah pokoknya kita ngekor aja di belakang kayak bebek. Maklum bo’ ini kota, gak tahu jalan, nyasar bisa bahaya.

 

Nah daftar deh, habis daftar dan ngurus administrasi segala macemnya, teman yang tahu jalan ini, sebut saja Mel. Jadi Mel ini punya ide ngajakin kita ke “Mall”. Upss…dengerin kata “Mall” yah tahu sendiri lah gimana senangnya kita bertiga bakal jalan – jalan ke Mall {Terutama aQyu}. Maklum biasanya kan cuma denger doang dari cerita orang kehebatan Mall itu, banyakan lagi liat kemegahan Mall dari Tipi (TV). Aku senang banget nih, kedua teman aku juga gitu, gak usah disebut yah, coz entar malu orangnya. Hehehe…

Oke, kita sampai di Mall. Tapi masih di area parkir gitu. Pas ngeliat aku barengan dua teman aku yang kita masing2 masih super duper lugu, kuno bin katro. Berdecak secara bersamaan, “Ooohh…ini toh yang namanya Mall” (wkwkwkwkw….n0rak).


Seterusnya kita di ajakin masuk deh sama si Mel. Eitt…tunggu mau naik tangga berjalan bo. Gimana caranya yah? (Kaciann,,,Tangga berjalan maksudnya tangga eskalator). Dengan perasaan deg degan diantara kita bertiga, kita pun diam gak bereaksi sama sekali apalagi untuk nyentuh dan naik ke tangga itu. Sementara si Mel udah hampir nyampe di atas. Karena melihat kita bertiga kelabakan, dia turun lagi trus nyuruh kita untuk nyoba. Untungnya waktu itu lagi sepi. Jadi malunya gak terlalu keliatan. Hiihihi…

 

Okehhh….ternyata asyik juga naik eskalator. Cuma bentar eh udah nyampe atas. Kita keliling2, muter2 gak jelas. Akhirnya pulang. Kesimpulannya Mall emang tempatnya orang-orang yang gayanya kece. Tapi orang N’deso kayak kami juga boleh masuk kan? Hehehe….. Mall sungguh hebat menyulap banyak manusia jadi konsumtif.

 

Cerita pas di tes masuk PTN ini lain lagi. Aku nginep di rumahnya sepupu. Waktu itu aku udah sedikit tahu jalan dan mobil2 tujuan yang harus dinaikin. Secara aku di makassar udah sebulan. Tiba deh pas hari tesnya, dan tahu kawand2 semua….aku telat bangun. Byurrr…..tahu apa yang terjadi? Aku telat nyampe lokasi test, sampai sana ditanyain satpam mau kemana? Ya bilangnya mau test, tapi gak dibolehin. Namun ada satu orang dosen yang waktu itu lewat, akhirnya mungkin karena kasian liat tampang berdosaku, dia pun manggil aku untuk test di ruang pengawas aja.

 

Seneng ada, kacau balau apa lagi. Hehhe…selama berada di ruang dosen itu, produksi keringat aku berlebih. Kena syindrom kali. Buru – buru aku selesein testnya aku kumpul dan keluar. Tapi sebelum keluar dapat rejeki nomplok juga, aku diminta makan ‘jalangkote’ dulu sebelum pulang. Yah canggung sih, tapi karena dipaksa ama pengawasnya ya ikut makan deh, walaupun cuma satu doang. 2 hari berikutnya ikut test lancar. Tapi aku udah gak yakin bakal lulus cos ngeliat banyak banget kesalahan fatal yang aku lakuin.

So next, keluar pengumuman “Emang gak lulus”. Kecewa? Enggak dong…santai..,!!!

Jadi setelah di coba di PTN gak lulus coba peruntungan di PTS. Oww…nomor pendaftaran aku tahu nomor berapa nomer 2! Jadi calon mahasiswa yang paling cepat mendaftar. Hihihi… nah di PTS ini gak mau dong kalo aku juga sampae gak lulus. So, ya emang harus lulus dong. Setelah test, pengumuman, ikut pesantren, dan OSPEK ala PTS. Akhirnya tercatat deh aku di jurusan Pend. Matematika Fak. Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kereend…calon kartini.

Review Kumcer “Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos”

Posted in Review buku with tags , on Maret 20, 2011 by Jingga Lestari Story

 

Membaca Amplop Merah Muda untuk Pak Pos, seperti membaca kehidupan. Kehidupan yang indah dan penuh cinta. Dari Keenam cerita pendek yang tertuang di dalamnya, kesemuanya memiliki kekuatan. Kekuatan yang aku yakin semua orang pasti memilikinya, kekuatan yang setiap orang tak ingin ditinggalkan olehnya. Kekuatan yang senantiasa memberi warna paling indah dari seluruh warna di dunia. Dialah kekuatan cinta. Kekuatan cinta yang akan selalu happy ending, sebab kekuatan cinta adalah sesuatu yang memudahkan bagi setiap orang untuk melewati hal apapun dan sesulit apapun itu. Karena cinta tidak hanya sekedar rasa tapi juga terdapat kekuatan yang mampu mengalahkan apapun melebihi segala kekuatan di dunia.

Membaca cerpen pertama ‘Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos’, emosi seperti diaduk-aduk (hehhe lebay yak? :D) tapi memang begitulah adanya. Sebab di sini siapa pun yang membaca pasti akan terbawa perasaan dan rasa emosi yang membuncah terhadap tokoh yang diceritakan dalam cerpen tersebut yaitu Barata. Barata yang oleh Lisbeth selalu dikirimi surat, Lisbeth yang terlalu menyayangi dan mencintai Barata sampai ia harus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi pada diri Barata dan keluarganya.

Surat-surat yang dikirimkan Lisbeth sangat menyentuh hati siapa pun yang membaca, penuh dengan ketulusan dan kesetiaan atas nama cinta. Memiliki kekuatan cinta yang teramat dalam terhadap kekasihnya, sampai-sampai aku sendiri yang membaca hingga akhir cerita ini harus menitikkan airmata saking harunya dan sedihnya. Aku tak sadar bahwa aku telah membiarkan bulir-bulir airmataku jatuh satu-satu yang kemudian aku sembunyikan tangisku dai tatapan orang-orang di toko buku gramedia. (Yah, aku belum membeli bukunya ketika itu :D) lalu buru-buru aku menyempurnakan wajahku, kuusap airmata yang masih menggantung dan kuatur dudukku kembali kemudian lanjut membaca.

Tokoh aku dalam cerita ini pun sangat menarik, aku suka dengan perannya sebagai pak pos yang jujur dan mau membantu. Aku suka bagian ketika dia mulai marah-marah sendiri karena Barata, orang yang dikirimi surat oleh Lisbeth ternyata tidak pernah membalas surat-suratnya. Sampai suatu ketika ia nekat masuk ke dalam rumah tua miliki keuarga Barata hanya untuk mencari informasi yang kiranya bisa ia sampaikan pada Lisbeth. Aku salut, cerita yang keren dan lebih salut lagi pada orang yang udah buat cerita ini. Two Thumbs it…:)

Oyah, sebenarnya aku ingin tampilkan potongan surat Lisbeth di sini, tapi aku pikir biar kalian baca sendiri deh…heehe (Selamat berpenasaran yak :D)

Cerita selanjutnya adalah “Hujan dan Bulan”. Dalam cerita ini, disajikan begitu banyak kejutan. Tentang Tokoh utama Indra dan Chandra yang secara alami terikat satu sama lain. Tentang mereka yang memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama tetapi justru merasa saling memiliki satu sama lain. Chandra yang dulunya hanya dikenal Indra sebagai bayi mungil yang kelahirannya merupakan kematian ibunya pula. Indra yang selalu menemaninya hingga tumbuh menjadi gadis remaja, Indra juga yang mengajarinya tentang kejujuran dan kepercayaan. Indra juga yang membuat rasa percaya dirinya tumbuh lagi. Indra yang diam-diam justru menyimpan perasaan pada Chandra, perasaan berbeda yang bukan sebagai kakak dan adik, juga bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang pria normal yang menyukai dan menyayangi orang yang dikasihihnya.

Kejutan yang paling membuat aku terkejut adalah ketika Chandra meminta Indra untuk menanam benih janin dalam rahimnya. Tentu saja Indra kaget dan tidak habis pikir dengan apa yang disampaikan oleh Chandra padanya. Hingga ia meminta alasan yang paling masuk akal kenapa sampai ia harus melakukan itu, terlebih lagi karena Indra telah memiliki istri.

Berikut adalah kalimat yang diucapkan Chandra sesaat sebelum akhirnya mereka memesan sebuah kamar untuk mewujudkan keinginan Chandra untuk memiliki seorang anak dari Indra.

//

“Karena Kak Indra adalah orang yang paling aku percaya di dunia ini, jug orang yang paling tulus yang pernah kukenal. Aku ingin jika punya anak dia akan seperti Kak Indra.”

Ah, alangkah sederhananya cinta…

Bagian yang paling sering membuat aku tertawa dan senyum senyum sendiri saat membaca buku cerpen ini adalah bagian Gea dan Bob dengan ‘Bolehkah Aku tidur di Ranjangmu?’ Tadinya aku pikir ini pertanyaan menjebak, tapi pertanyaan ini malah justru membuat aku makin penasaran dan tergelitik untuk segera membaca ceritanya. ehehehe

Gea dan Bob yang sejak kecil sudah bersahabat kemudian waktu terus dan terus berjalan hingga mereka masih bersahabat hingga dewasa. Sampai suatu ketika karena mereka akhirnya sudah tidak tahan berjauhan terus, Bob pun memutuskan untuk meminta Gea menjadi istrinya. Sedangkan Gea sendiri tidak menolak atas pinangan Bob, orang yang memang tidak akan pernah bisa tergantikan di hatinya.

Pasangan keluarga ini terbilang sangat unik dan lucu banget, ada banyak kejahilan, kekonyolan yang justru malah membuat cerita ini sangat hidup. Terutama pada pada bagian dimana ketika mereka saling merusak fasilitas kamar apartemen masing-masing hanya karena ingin tidur bersama. padahal harusnya mereka suda tidak canggung-canggung lagi karena sudah menjadi pasangan suami istri. Dan tentunya mau ngapain juga yah suka-suka dong yak. hehe 😀

Tapi keluarga ini berbeda dengan keluarga lainnya, mereka sibuk sendiri dengan dunia masing-masing yaitu saling merusak fasilitas kamar masing-masing. sampai suatu ketika mereka kehabisan akal karena justru AC di kamar mereka malah rusak beneran dan harus segera diperbaiki. Itu artinya tidak ada alasan bagi mereka untuk berpura-pura lagi bahwa mereka sesungguhnya saling membutuhkan dan mereka ingin berbagi kehangatan dengan tidur bersama dalam satu ranjang.

hehehe lucu banget, apa lagi pada saat mereka justru malah tidak bisa tidur, mereka merindukan kehangatan tubuh satu sama lain. Yang akhirnya membuat mereka berbicara jujur tentang kekonyolan yang mereka buat sendiri. Hingga menyatukan mereka kembali sebagai sepasang suami istri yang sempurna. Pillow talk, yah memang sangat penting untuk lebih mmbuat hubungan semakin intim dan lebih dalam mengenal pasangan masing-masing. nice story… 🙂

Next, the story of “MATI”.

Pada bagian ini mengajarkan aku banyak hal tentang hidup dan mati. bahwa Mati atau meninggal itu bukanlah suatu kesusahan yang membuat kita harus bersedih lama-lama. Tapi sebaliknya kita harus kuat dan kuat lagi agar mampu bertahan dan mandiri. Ah, aku malah teringat dengan mendiang ibu yang meninggal kria-kira 1 setengah tahun yang lalu.

Yah, benar, kematian bukanlah suatu kesusahan…

berikut adalah petikan kalimat yang diucapkan oleh seorang anak kecil dalam cerita MATI ini:

“”mati itu enak, kalau nggak enak kenapa nggak ada orang mati yg kembali lagi?”.

Cerita berikutnya adalah “ISTRIKU”. Khusus cerita yang ini aku mau kasih 4 jempol deh. hehehe 🙂 Bahkan aku ikhlas ngasih empat jempol juga dari kelima kakakku. ixixixi *lebay yak 😀

Cerita dalam cerpen ISTRIKU sangat menarik, imajinatif dan sangat mengalir apa adanya. Seperti halnya cinta yang mengalir diantara dua tokoh utama dalam cerita ini. Mandy dan seorang yang hilang ingatan, dimana dulunya dipanggil Boscat dan terkenal sebagai pembunuh bayaran kelas kakap. Meskipun ceritanya imajinatif, tapi tidak terkesan dibuat-buat . Seperti halnya Mandy yang membuat keputusan sangat penting dalam hidupnya yaitu ketika ia harus mengaku bahwa orang yang kini ditangani dokter yang tak lain adalah Boscat itu suaminya. Ia nekat melakukan itu, karena jika tidak maka nyawa Boscat mungkin tida akan selamat.

Dengan perhatian, pengabdian, serta keuletan dan rasa kasih sayang yang dicurahkan Mandy, membuat seorang  pembunuh bayaran luluh dan malah ingin tetap menjadi suami bagi Mandy. Kisah yang sangat romantis menurutku, cinta yang muncul ketika dalam ketidak tahuan. Dan benar bahwa bukan manusia yang memilih cinta tapi cintalah yang memilih manusia.

Cerpen terakhir adalah ‘Cintaku pada Januari’. Cerita yang panjang kupikir jika hanya untuk seukuran cerpen. heeeeh? Iyyah. aku malah mikirnya kenpa gak sekalian dibuat novel aja yah?hehee

Kali ini lagi-lagi bercerita tentang cinta yang unik, cinta yang tulus dan tidak mengenal rintangan asal kita berusaha untuk mewujudkannya. Di sini ada banyak cinta yang dibahas, cinta yang diam, cinta yang egois, cinta yang butuh, segala cinta ada di sini. Kedua tokoh utama dalam cerita ini yakni Januari dan Nino, adalah sebuah cinta antara musikus terkenal dengan fansnya yang selalu kagum terhadap Januari. Yang pada akhirnya membawa mereka pada suatu takdir, yaitu takdir cinta. mereka sempat terpisah selama 10 tahun. Meskipun begitu, dalam keadaan jauh dan tanpa komunikasi, keduanya malah merasa sangat dekat satu sama lain. “Jauh di mata dekat di hati”. hehe

Aku salut dengan perjuangan noni untuk menemukan Januari, sebagaimana aku salut pada Januari dengan caranya yang berbeda dalam hal mencintai. Menghargai perjuangannya saat ingin sembuh dari penyakit kanker stadium akhir yang di deritanya. Terharu dengan pernikahan mereka yang dilaksanakan dalam kamar pasien milik Januari, juga sangat bangga dengan keinginan Januari untuk melafaskan kalimat Ijab Kabul dengan satu nafas yang kemudian berhasil dilakukannya. Aku kagum dengan keseluruhan cerita pada cerpen ini sebagaimana aku ikut bahagia dengan kelahiran buah hati mereka yang pertama. Tentang keindahan lagu-lagu milik Januari untuk Istri dan anaknya.

Tentang Juno yang diaku oleh Nino sebagai sepupu laki-lakinya, pada akhirnya juga mendapatkan kebahagiaannya dengan menikahi teman Nino.  Tentang Orang tua Nino yang tidak keberatan atas pernikahannya meski ia telah hamil lebih dulu. Dan bagian lucu pada cerita ini adalah, Januari baru tahu kalau ternyata Juno itu bukanlah saudara sepupu Noni, melainkan om dari Noni. hiihihi…kasian Januari. Ceritanya komplit dibagian penutup ini…:D

Mantap deh untuk keseluruhan cerita dari buku ini, Ceritanya semuanya inspiratif dan mengajarkan tentang banyak cinta, apa itu cinta, bagaimana cinta, dan seperi apa kita harus memperlakukan cinta.

Kesimpulannya bahwa, cinta itu sederhana, tidak rumit kecuali kita sendiri yang membuatnya rumit. Cinta itu segala rasa yang terkandung di dalamnya, muai dari manis, pahitt, sedih, susah, senang, bahagia, dan semuanya. cinta itu tidak akan kemana-mana. Dia akan tetap berada di sana, dan akan menghampiri kita disaat ia berkehendak. Karena bukan kita yang memilih cinta, tapi kita lah yang dipilih olehnya. So, manjakan, sayangi, perlakukan dengan sebaik-baiknya, cintai jika memang pantas dicintai dan cintai orang yang benar-benar membuatmu merasa bahwa dia tidak bisa hidup tanpamu, begitu pun sebalikanya.

Intinya hargai cinta dengan setulus-tulusnya… (akh, aku sudah terlalu banyak bicara cinta…:D)

 

Jadi teman-teman, milikilah buku “Amplop Merah Muda untuk Pak Pos” segera. Gak rugi kok kalian beli buku ini…xixixixi (Promonya kurang gress yak??)

 

 

Salam, Jingga Lestari

(Pertama kalinya nulis review sebuah buku, mudah2an gak jelek2 amat..:O :D)

 

Pantai, Senja dan Tanya

Posted in PUISI JINGGA with tags , on Maret 17, 2011 by Jingga Lestari Story

Pantai, Senja dan Tanya

 

 

Betapa datarnya semua suara di tepi pantai,

suara suara teredam oleh banyaknya pasir.

Aku memaku pandang pada bayang bayang senja

juga mentari yang sebentar lagi menua pekat.

Ombak kecil naik memercik,

sebagiannya hinggap di wajahku.

Aku terkesiap dan tanya membentang,

Kapankah diantara waktu yang berkejaran dalam hidup,

membawa perubahan, sampai pada perubahan terakhir

yang paling penting diantara yang lainnya?

Aku membisu, kuperhatikan lamat lamat malam telah membungkus.

Aku belum lagi pergi…

 

%d blogger menyukai ini: