pengen free…hiks :(

Freedom…


Selama hidupku, aku Cuma ingin dan butuh satu “bebas”. Aku belum pernah merasakan kebebasan yang benar-benar bebas dan membebaskan diriku secara pribadi. Termasuk untuk hal-hal hidupku yang sekecil apapun. Sejak kecil aku suka nulis, aku suka cerita, aku suka baca dan aku suka puisi. Dari SD aku belajar nulis, nulis apa saja, entah itu surat izin untuk tidak masuk sekolah, surat sahabat, bahkan surat untuk seseorang yang aku kagumi waktu itu sejak SD. (hehe yang ini rahasia di jaman kala). Waktu SD aku belum punya buku pribadi yang kebanyakan temanku bilang buku diary. Jadinya aku sering nulis di buku catatan pelajaran sekolah. Hehehe…

Masuk SMP aku sudah punya buku harian, meski bukan buku harian yang sampulnya bergambar boneka atau apa. Tapi buku harian yang seperti buka catatan sekolah tapi ukuruannya agak kecil karena aku bagi dua. Aku menggunting buku catatanku jadi dua bagian yang sama besar lalu aku jadikan buku pribadi aku. (hehe, maklum belum mampu beli). Di keluarga aku, mungkin hanya aku yang senang nulis-nulis di buku harian. Semua kakakku gak ada yang aku liat punya catatan khusus tentang dirinya. Atau aku yang gak tahu yah? (Kesian…)

Aku senang sekali karena sudah punya buku harian, itu artinya dengan bebas aku bisa menuliskan semua yang ingin aku tuliskan ke dalam buku harian itu. Gak perduli bagus atau enggaknya. Yah terserah aku pokoknya. Dari menulis inilah aku menemukan diriku bebas secara utuh. Aku bebas mengekspresikan apa yang aku rasakan dan bebas mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan itu sangat aku senangi. Punya buku harian adalah hal terindah yang aku idamkan waktu kecil. Sayangnya, buku harian itu udah gak ada lagi sekarang, entah kemana. Padahal buku harian itu sesungguhnya menyimpan banyak hal tentang aku dan semua yang terjadi padaku sewaktu kecil. Jika ada masa yang ingin aku ulang kembali adalah masa ketika aku kecil dulu. Masa dimana dengan sejuta kepolosan yang kumiliki. Aku senang pernah mengalami semua itu. (memori yang biru).
Kebebasan menurutku adalah bebas melakukan apapun yang kuinginkan, bebas mengatakan apa pun yang kuinginkan. Dan itu semua hanya kuperoleh sewaktu umurku yang masih belia.

Menjelang SMA sudah terlalu banyak aturan yang membentengi langkahku. Sebagai anak perempuan yang tumbuh sebagai remaja, aku di larang untuk melakukan hal ini dan itu yang orang dewasa maksudkan. Satu-satunya larangan yang aku setujui ketika semasa SMA adalah larangan untuk tidak pacaran selama SMA. Itu jelas demi kepentingan aku juga, karena aku pun senang menjalani larangan itu. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana aku nyuekin teman-teman cowok yang suka sama aku. Hahaha kasian mereka, tapi aku emang gak terlalu suka sama aktifitas yang disebut “PACARAN” itu. Apalagi statusnya masih pake Seragam sekolah. Pertanyaannya adalah apa aku terlalu dewasa yah sampai mikirnya pacaran itu kalo sudah make seragam apa gitu yang jelas sudah punya jabatan.

Aku juga ingat bagaimana aku ngerobek setiap surat yang dialamatkan padaku. Katanya sih surat CINTA, idih surat Cinta. Apaan… dulu aku pernah dikirimi surat dari salah seorang cowok, aku lupa namanya siapa tapi aku ingat banget bahwa semua surat yang ia kirim untukku gak pernah aku baca. Paling Cuma aku buka dan sudah itu aku bakar atau robek. (soalnya pasti isinya gak menarik-narik amat). Surat-surat tersebut jadi korban api atau lapuk di tempat sampah. Sebenarnya aku suka kalo dikirimi surat, hanya saja aku gak suka kalo yang ngirim surat ke aku itu tulisannya lebih jelek dari tulisanku. Dan itu juga termasuk sederetan alas an kenapa aku mesti merobek atau membakar surat-surat itu. Ya karena tulisannya itu, baru buka suratnya aja pas liat tulisannya aku udah gak bisa baca, gimana aku bisa ngerti isinya coba? Tapi aku hargai kerja kerasnya yang mau nulis surat buatku, setidaknya dia sudah belajar untuk nulis dan memperbaiki tulisannya. Alasan lain karena aku takut surat-surat tersebut jatuh ke tangan emak aku atau kakak-kakak aku yang super over protective itu. Tapi baik kok mereka, gak makan orang. Hehehe…

Kebebasan itu sangat sulit untuk diraih, apalagi setelah lulus SMA dan akhirnya aku terdaftar sebagai salah seorang mahasiswi di UMM. Sebenarnya tidak masalah mengenai tempat dimana aku kuliah, masalahnya adalah karena aku tidak bisa bebas memilih jurusan yang aku inginkan. Sejujurnya aku ingin mengembangkan bakat aku di dunia nulis sekaligus mewujudkan cita-cita aku untuk bisa jadi penulis professional. Sayangnya aku malah dipaksa untuk mengambil jurusan yang tidak aku sukai, MATEMATIKA. Jelas itu bukan aku. Walau nilai Matematika aku bagus semasa sekolah, tapi itu bukan jaminan bahwa aku bisa meneruskan nilai itu bagus terus di bangku kuliah.

Karena itu semua sudah jadi kesepakatan keluarga, akhirnya aku harus rela mengorbankan cita-citaku untuk sementara. Tapi tidak berhenti dari situ, aku akhirnya punya akal dan tetap bisa mengasah bakat di bidang nulis, yakni masuk di UKM SENI kampus. Aku pasti bisa menemukan diriku yang sebenarnya di sana. Dan benar saja, aku bisa kuliah matematika dan tetap bisa belajar sastra, puisi, dan teater sekaligus. Aku senang banget. Walau gak bertahan lama, karena kembali lagi keluarga kurang suka aku terlalu banyak bergaul dengan seni. Aku bertahan hanya setahun, dan bagiku itu hanya seminggu untuk ukuran kesenangan bagi aku. Hanya saja setidaknya aku bisa belajar banyak hal di sana.

BEBAS…
Entahlah, mungkin di suatu kesempatan aku benar-benar bisa merasakannya…
Semoga…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: