Sajak Nomor Sekian tentang Rindu

Aku mendengar suara angin, riuh seperti mengandung pesan akan adanya pertanda entah bahaya atau petaka yang lebih hebat. Aku masih terjaga, jari-jari menari dengan lincah. Menggoreskan luka-luka dari dalam tintanya yang keruh. Aku sedang termangu, menatap satu demi satu kenangan itu beringsut menangkapku dalam pecahan-pecahan masa lalu. Lalu aku diam, membiarkan setiap lingkaran masa lalu melilit tubuhku yang kini hanya tinggal rindu. Biarlah ringkih, biarlah dagingku ku persembahkan. Demi luka yang selalu meminta… demi rindu yang tak pernah bisa usai menjamu malam. Demi rasa yang terbelenggu pada jiwa-jiwa menanti harap.
: Lalu di waktu-waktu yang kosong ini, rindu siapa lagi yang ingin melengking?
25 januari2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: